Menjaga Jati Diri: Menghadapi Arus Penyusupan Budaya Barat dalam Islam
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh: Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
SEIRING dengan berjalannya waktu, nilai-nilai ajaran Islam yang luhur mengalami pergeseran tajam. Generasi muda islam lebih akrab dengan budaya-budaya luar (Barat). Setiap tahun dengan antusia merayakan hari ibu, valentine dan tahun baru masehi. Seperti meniru gaya rambut, pakaian dan bersosial dengan ala barat lebih disukai dan diminati dari pada yang digariskan syariat.
Ironisnya fenomena itu dianggap sebagai suatu hal lumrah dan wajar dengan dalih modernisme di mana asimilasi budaya harus diterima, bagi siapa yang menolak diklaim sebagai intoleran. Namun, narasi ini bila ditinjau dari aspek teologis sejatinya umat ini sedang mempersiapkan diri untuk memasuki sebuah fase akhir zaman. Sebab sedikit demi sedikit gaya hidup pola orang-orang barat lebih disenangi.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِي بِأَخْذِ القُرُونِ قَبْلَهَا، شِبْرًا
بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللّٰهِ، كَفَارِسَ وَالرُّومِ؟؟. فَقَالَ: وَمَنِ النَّاسُ إِلَّا أُولَئِكَ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Hari kiamat tidak akan terjadi hingga umatku meniru gaya hidup generasi-generasi sebelumnya, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Lalu beliau ditanya, Wahai Rasulullah: Seperti Persia dan Romawi?. Nabi menjawab: Menusia mana lagi selain mereka itu?. (HR. Bukhari).
Badruddin al-‘Aini ( w 855 H) berkata: Kalimat “umatku akan mengikuti tradisi generasi sebelumnya” yang dimaksud ialah bahwa kelak umat islam akan meniru pola hidup kaum Persia dan Romawi sehingga nilai-nilai agama menjadi luntur. (Badruddin al-‘Aini, ‘Umdatul Qari Syarhu Shahih al-Bukhari,10/365).
Hari ini, apa yang dikatakan oleh Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam dan penjelasan para ulama benar-benar nyata. Umat Islam lebih gandrung dengan gaya hidup barat, bahkan orang yang tidak akrab dengannya dicap sebagai manusia kolot. Di sisi lain, tradisi apa saja yang akan diikuti oleh umat ini?.
Dengan gamblang Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam utarakan bahwa umat ini akan melakukan semua hal yang diperbuat umat-umat sebelumnya. Jika mereka mendatangi ibunya secara terang-terangan (menggaulinya) maka sebagian umat islam akan melakukan hal yang sama.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللّٰهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيْلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلاَنِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ.
Dari Abdullah bin Amru berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Pasti akan datang kepada umatku sesuatu yang telah datang pada bani Israil seperti sejajarnya sandal dengan sandal sehingga apabila di antara mereka ada yang mendatangi (menggauli) ibu kandungnya sendiri secara terang-terangan maka pasti di antara umatku ada yang melakukan demikian. HR. Tirmizi.
Syekh Sofiyurrahman al-Mubarakfūrī (w 1353 H) dalam Tuhfatul Ahwazi mengutip pendapat imam an-Nawawī rahimahullah berkata: Yang dimaksud dengan ‘seperti sejajarnya sandal dengan sandal’ ialah umat islam akan meniru cara berpikir, gaya hidup dan berekspresinya umat terdahulu secara sempurna. (Sofiyurrahman al-Mubarakfūrī, Tuhfatul Ahwazi, 7/333). Sulthan Ali al-Qari (w 1014 H) dalam Mirqātu berkata: Kalimat seperti ‘sejajarnya sandal dengan sandal’ yang dimaksud ialah umat islam ini akan meniru setiap perbuatan mereka secara utuh. (Sulthan Ali al-Qari, Mirqātu, 1/258).
Dalam hadits lain disebutkan bahwa jika kaum terdahulu itu masuk ke lobang biawak maka umat islam pun akan ikut.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ، قُلْنَا يَا رَسُولَ اللّٰهِ، اليَهُودَ، وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: «فَمَنْ.
Dari Abu Sa’id bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Kalian pasti akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta hingga seandainya mereka masuk ke dalam lobang biawak kalian pasti akan mengikutinya. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang baginda maksud kaum Yahudi dan Nasrani?. Beliau menjawab: Siapa lagi kalau bukan mereka. HR. Bukhari dan Muslim.
Ibnu Battal (w 499 H) dalam Syarhu as-Shahīh al-Bukhari berkata: Rasulullah saw mengabarkan bahwa umatnya kelak pasti akan mengikuti kaum Yahudi dan Nashrani dalam perkara-perkara baru mengenai agama dan mengubah ajarannya. (Ibnu Battal, Syarhu as-Shahīh al-Bukhari, 16/43).
Di antara kebiasaan kaum Yahudi yang ditiru oleh umat islam ialah Qoza’ (mencukur sebagian rambut dan membiarkan bagian yang lain). Ibnu Batthal (w 499 H) mengutip kaul al-Hajaj bin Hasan berkata: Anas datang menemui kami lalu berkata: Saudari perempuanku berkata: “Suatu ketika Rasulullah saw datang menemui kami dan waktu itu ada seorang anak kecil yang di kepalanya ada semacam rambut yang dikucir. Lalu beliau mengusap rambutnya dan mendoakan keberkahan lalu bersabda: Potonglah rambutnya karena ini menyerupai kaum Yahudi”.
Kesimpulannya, arus penyusupan budaya Barat merupakan tantangan nyata yang dapat memengaruhi pola pikir, gaya hidup, dan nilai-nilai umat Islam. Jika tidak disikapi dengan bijak, hal ini berpotensi mengikis jati diri dan identitas keislaman secara perlahan. Oleh karena itu, umat Islam dituntut untuk memiliki sikap selektif dan kritis—mampu mengambil hal-hal positif yang tidak bertentangan dengan syariat, serta menolak unsur-unsur yang merusak akidah dan akhlak.
Menjaga jati diri bukan berarti menutup diri dari perkembangan zaman, tetapi memastikan bahwa setiap perubahan tetap berlandaskan pada nilai-nilai Islam. Dengan demikian, umat Islam dapat tetap eksis dan maju tanpa kehilangan prinsip dan karakter keislamannya.***

Tulis Komentar